KESEHATAN, KABARANO.com – Proses pengobatan kanker pada anak, seperti kemoterapi, radioterapi, maupun tindakan bedah, merupakan perjalanan medis yang menantang. Selain memicu kelelahan fisik, rangkaian terapi tersebut kerap menimbulkan efek samping yang perlu dipahami oleh orang tua demi menjaga kualitas hidup anak selama masa pemulihan.
Pihak medis menekankan kemunculan reaksi tubuh pascaterapi merupakan dampak wajar dari proses pembersihan sel-sel abnormal, bukan penanda kegagalan pengobatan. Dampak yang dirasakan setiap anak sangat bervariasi, tergantung pada dosis obat, jenis tindakan, serta ketahanan fisik masing-masing individu:
- Kemoterapi, reaksi yang kerap muncul meliputi mual, muntah, kerontokan rambut, rasa lelah berlebih, serta penurunan sel darah yang memicu anemia. Anak juga rentan mengalami sariawan, penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit, perubahan pada kulit dan kuku, hingga risiko gangguan pertumbuhan jangka panjang.
- Radioterapi, penyinaran dapat memicu iritasi kulit pada area target, kelelahan, serta gangguan pertumbuhan jaringan tulang. Jika penyinaran dilakukan di area kepala, ada risiko gangguan kemampuan belajar. Sementara itu, radiasi pada area perut cenderung memicu mual.
- Tindakan Bedah (Operasi), pascaoperasi, anak umumnya merasakan nyeri, pembengkakan, serta memar di sekitar luka sayatan. Risiko infeksi serta penurunan fungsi organ dapat terjadi apabila ada bagian organ tertentu yang diangkat.
Meskipun sebagian besar efek samping dapat dikelola di rumah, orang tua diminta untuk tetap waspada. Pasien harus segera dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika menunjukkan tanda-tanda bahaya berikut:
- Demam tinggi mencapai atau melebihi 38 derajat Celsius.
- Kejang, penurunan kesadaran, atau gangguan bicara.
- Sesak napas hebat atau nyeri dada.
- Pembengkakan pada area wajah dan leher saat berbaring.
- Perdarahan, seperti muntah atau batuk darah, buang air besar berwarna hitam atau berdarah, serta urine berwarna merah gelap.
- Kelemahan mendadak pada anggota gerak tubuh.
Untuk meminimalkan ketidaknyamanan anak selama masa terapi, sejumlah langkah penanganan mandiri dapat diterapkan oleh keluarga:
- Berikan obat pemblokir mual sesuai instruksi dokter untuk mengatasi mual dan muntah. Sajikan makanan bertekstur ringan dalam porsi kecil tetapi sering, serta hindari sajian berlemak atau beraroma tajam.
- Menjaga kebutuhan cairan. Tanda dehidrasi dapat dikenali dari mulut kering dan penurunan frekuensi buang air kecil. Berikan air putih, oralit, air kelapa, atau sup bening secara bertahap setiap 15 – 30 menit. Batasi minuman tinggi gula, bersoda, atau mengandung kafein.
- Terapkan kebiasaan mencuci tangan secara rutin untuk mencegah infeksi, pastikan makanan disajikan dalam kondisi matang sempurna, serta batasi interaksi anak dengan kerumunan atau orang yang sedang sakit.
- Tekanan fisik akibat terapi berpotensi memicu kecemasan dan perubahan emosi pada anak. Orang tua dianjurkan untuk mendengarkan keluhan anak secara terbuka, memberikan dukungan moral, dan berkonsultasi dengan psikolog anak apabila diperlukan.
